BAB I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Masalah utama yang sedang dihadapi
negara-negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia adalah masih tingginya laju pertumbuhan
penduduk dan kurang seimbangnya penyebaran dan struktur umur penduduk. Keadaan
penduduk yang demikian telah mempersulit usaha peningkatan dan pemerataan
kesejahteraan rakyat. Semakin tinggi pertumbuhan penduduk semakin besar usaha
yang diperlukan untuk mempertahankan tingkat tertentu kesejahteraan rakyat
(Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional, 2004).
Keluarga
Berencana telah menjadi salah satu sejarah keberhasilan pada abad ke 20 saat
ini hampir 60 % pasangan usia subur di seluruh dunia menggunakan kontrasepsi.
Hingga saat ini populasi dunia sudah mencapai angka 6 milyar dan lebih dari 120
juta wanita negara berkembang tidak memiliki cara mencegah kehamilan.
Pada awal tahun 2000, para pakar kependudukan memproyeksikan penduduk Indonesia
pada tahun 2010 sebanyak 234,1 juta Angka ini merupakan proyeksi moderat yang
mengasumsikan keberhasilan program Keluarga Berencana (KB) dalam menurunkan
fertilitas pada periode 1997-2000 terus berlanjut.
Kontrasepsi
hormon merupakan kelompok kontrasepsi yang pemakaiannya berada pada urutan ke
tiga diseluruh dunia. Sebagian besar (85 %) menggunakan kontrasepsi oral
sedangkan implant hanya 15% namun
beberapa negara mungkin banyak mengandalkan salah satu metode tertentu
(Glasier,2006).
Survey
demografi dan kesehatan Indonesia tahun 2002 –
2003 memperlihatkan proporsi peserta KB untuk semua tercatat sebesar 60,3 %.
Bila dirinci lebih lanjut proporsi peserta KB yang terbanyak adalah suntik (27,8%), diikuti oleh pil (13,2%),
IUD (6,2%), implant atau susuk KB (4,3%) sterilisasi wanita (3,7%), kondom
(0,9%), sterilisasi pria (0,4%), MAL (Metode Amenore Laktasi) (0,1%), dan sisanya merupakan peserta KB
tradisional masing – masing menggunakan cara tradisional, pantang berkala
(1,6%) maupun senggama terputus (1,5%) dan cara lain (0,5%).(BKKBN, 2006).
Banyak
perempuan yang mengalami kesulitan dalam menentukan pilihan jenis kontrasepsi.
Hal ini tidak hanya karena terbatasnya metode yang tersedia tetapi juga oleh
ketidaktahuan mereka tentang persyaratan dan keamanan metode kontrasepsi
tersebut, berbagai faktor harus dipertimbangkan termasuk status kesehatan.
Salah satu bagian dari program KB nasional adalah KB implant. Kontrasepsi untuk kebutuhan KB yang terus berkembang dari
tahun ke tahun. Pemasangan implant sederhana dan dapat diajarkan dan efek
sampingnya sedikit Implant merupakan
kontrasepsi yang paling tinggi daya guna nya Kegagalan adalah 0,3 per 100
tahun tetapi mengapa ibu – ibu kurang
berminat menggunakan alat kontrasepsi ini (Manuaba, 1998).
Kelebihan
implant adalah cocok untuk wanita
yang tidak boleh menggunakan obat yang mengandung estrogen, perdarahan yang
terjadi lebih ringan, tidak menaikan tekanan darah, resiko terjadi nya
kehamilan ektopik lebih kecil jika dibandingkan dengan pemakaian alat
kontrasepsi dalam rahim.(Sarwono, 1999.)
Berdasarkan
hasil presurvey di BKKBN pada tahun 2009 di Sumatra Utara Jumlah Pasangan Usia
Subur sebanyak 1.982.810 peserta, pasangan yang menjadi peserta KB aktif pada
Mei 2009 sebanyak 1.266.071 yakni peserta KB IUD sebanyak 2.488 peserta, Metode
Operasi Wanita sebanyak 920 peserta, Metode Operasi Pria 257 peserta, Kondom
2.212 peserta, Implant 4.325 peserta,
Suntik 9.974 peserta dan Pil sebanyak 10.931 peserta. Sementara PUS yang bukan
peserta KB ada sebanyak 716.739 yakni 73.863 jumlah pasangan usia subur yang
sedang hamil, 213.653 jumlah pasangan usia subur yang ingin mempunyai anak
segera (IAS), 249.586 jumlah pasangan usia subur tidak ingin anak lagi (TIAL),
179.637 jumlah pasangan usia subur yang ingin anak ditunda (BKKBN,2009).
Secara
umum alasan utama tidak menggunakan KB Implant
yang paling dominan dikemukakan wanita adalah merasa tak subur (28,5%). Alasan
berikutnya yang cukup menonjol adalah alasan telah mengalami menopause (16,8%).
Alasan berkaitan dengan kesehatan (16,6%). Alasan efek samping (9,6%). Puasa
kumpul (7,3%). merasa tidak nyaman dalam ber KB (5,2%). Dan alasan berkaitan
dengan akses ke pelayanan seperti jarak jauh, tak tersedia provider (0,1–1,6%).
Selain itu masih dijumpai alasan mengenai larangan suami dan budaya atau agama
(2,6% dan 0,9%) (BKKBN, 2009)
Dari data yang diperoleh dari pemberdayaan
wanita dinas kesehatan kota Medan peserta KB aktif pada bulan November 2009 di
kecamatan Medan Marelan dari 20,830 PUS yang memakai alat kontrasepsi implant hanya 581 (3,85 %). Berdasarkan
latar belakang masalah maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian
beberapa faktor yang mempengaruhi rendahnya minat ibu untuk memilih implant sebagai alat kontrasepsi di Kelurahan
Terjun Kecamatan Medan Marelan.
- Rumusan Masalah
Berdasarkan
uraian latar belakang tersebut yang
menjadi perumusan masalah dalam penelitian ini adalah : Apakah faktor-faktor
yang mempengaruhi rendahnya minat ibu untuk memilih implant sebagai alat kontrasepsi di Kelurahan Terjun Kecamatan
Medan Marelan Tahun 2010 ?
C. Tujuan Penelitian
1.
Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran
faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya minat ibu untuk memilih implant sebagai alat kontrasepsi di Kelurahan
Terjun Kecamatan Medan Marelan Tahun 2010.
2.
Tujuan Khusus
a. Mengetahui rendahnya minat ibu untuk
memilih implant sebagai alat
kontrasepsi berdasarkan faktor pengetahuan di Kelurahan Terjun Kecamatan Medan
Marelan Tahun 2010.
b. Mengetahui rendahnya minat ibu untuk
memilih implant sebagai alat kontrasepsi
berdasarkan faktor ekonomi di Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan Tahun
2010.
c. Mengetahui rendahnya minat ibu untuk
memilih implant sebagai alat
kontrasepsi berdasarkan faktor pendidikan di Kelurahan Terjun Kecamatan Medan
Marelan Tahun 2010.
untuk info lebih lanjut silah kan sms ke 085277011414
Tidak ada komentar:
Posting Komentar