|
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Mual dan muntah merupakan salah satu
gejala paling awal, paling umum dan paling menyebabkan stress yang dikaitkan
dengan kehamilan. Akan tetapi, dokter obstetric dan dokter umum menganggap mual
dan muntah hanya semata-mata merupakan gejala fisiologis, dan sebuah masalah
yang sering kali membuat mereka merasa tidak berdaya untuk membantu
mengatasinya. Mual dan muntah sering diabaikan karena dianggap sebagai sebuah
konsekwensi normal di awal kehamilan tanpa diakui dampak hebat yang
ditimbulkannya pada wanita dan keluarga mereka.
Mortalitas dan morbilitas
pada wanita hamil dan bersalin adalah masalah besar bagi Negara-negara
berkembang. Di negara miskin, Sekitar 20-50% kematian Wanita usia subur di
sebabkan hal-hal yang berkaitan dengan kehamilan Menurut data statistik yang di
keluarkan WHO sebagai badan PBB yang menangani badan bidang kesehatan, tercatat
angka kematian ibu dalamKehamilan dan persalinan di dunia mencapai 515 juta
jiwa setiap tahun (World Health Organization, 2008).
Kehamilan merupakan suatu peristiwa
yang unik dan penuh misteri bagi setiap pasangan suami istri. Setiap kehamilan
diharapkan dapat berakhir aman dan sejahtera baik bagi ibu maupun bagi
janinnya. Oleh karena itu pelayanan kesehatan maternal yang bermutu sangatlah
penting dan semua perempuan diharapkan dapat memperoleh akses terhadap
pelayanan kesehatan tersebut (Hidayat, 2009. hal: 29).
Mengingat pentingnya peningkatan kesehatan ibu dan bayi baru
lahir, tanggal 12 Oktober 2000 pemerintah telah mencanangkan gerakan nasional
kehamilan aman atau making pregnancy safer (MPS) sebagai strategi pembangunan
kesehatan masyarakat menuju Indonesia sehat 2015 sebagai bagian dari program
safe motherhood dalam arti kata luas tujuan safe motherhood dan makin pregnancy
safer sama, yaitu melindungi hak reproduksi dan hak asasi manusia dengan cara
mengurangi beban kesakitan, kecacatan dan kematian yang berhubungan dengan
kehamilan dan persalinan yang sebenarnya tidak perlu terjadi. MPS merupakan
strategi sektor kesehatan yang terfokus pada pendekatan perencanaan sistematis
dan terpadu dalam melaksanakan intervensi klinis dan pelayanan kesehatan. (Arief,b
2008)
Kehamilan merupakan suatu peristiwa
yang unik dan penuh misterius bagi pasangan suami istri. Setiap kehamilan
diharapkan dapat berakhir aman dan sejahtera baik bagi ibu maupun bagi
janinnya, Oleh karena itu pelayanan kesehatan maternal yang bermutu sangatlah
penting dan semua perempuan diharapkan memperoleh akses terhadap pelayanan
kesehatan tersebut. Mual (nausea) dan
muntah ( emesis gravidarum) adalah
gejala gejala yang wajar dan sering didapatkan pada kehamilan tri mester I.
mual biasanya terjadi pada pagi haari ,tetapi
dapat pula timbul setiap saat dan malam hari.Gejala-gejala ini kurang lebih 6 minggu hari pertama haid
terakhir dan berlangsung selama 10 minggu (Prawiroharjo, 2005).
Mual
muntah terjadi pada 60-80 % primigravida dan
40-60 % multigravida. Satu di antara
1000 kehamilan gejala-gejala ini menjadi lebih berat perasaan mual ini
disebabkan oleh karena meningkatnya kadar hormone
esterogen HCG daalam serum. Pengaruh fisiologi kenaikan hormone ini belum
jelas, mungkin karena sistem saraf pusat atau pengosongan lambung berkurang.
Pada umumnya wanita dapat menyesuaiakan dengan keadaan ini meskipun demikian
dan keadaan umum menjadi buruk keadaan ini disebut hieremesis gravidarum. Keluhan gejala dan perubahan fisiologis
menentukan berat ringannya penyakit. Hiperemis
gravidarum yang tidak mendapat penanganan yang baik dapat pula menyebabkan
kematian pada ibu hamil (Prawiroharjo, 2005).
Komplikasi yang terjadi akibat
hiperemesis gravidarum seperti kehilangan berat badan, dehidrasi, asidosis dari
kekurangan gizi, alkalosis, hipokalaemia, kelemahan otot, kelainan
elektrokardiografik, tetani, dan gangguan psikologis merupakan komplikasi yang
ringan. Komplikasi yang mengancam kehidupan meliputi ruptur oesophageal
berkaitan dengan muntah yang berat, Encephalopathy Wernicke's, mielinolisis
pusat pontine, retinal haemorrhage, kerusakan ginjal, pneumomediastinum secara
spontan, keterlambatan pertumbuhan di dalam kandungan, dan kematian janin.
Seorang pasien dengan hiperemesis gravidarum telah dilaporkan telah mengalami
epistaksis pada minggu ke 15 kehamilannya dikarenakan kurangnya intake/masukan
vitamin K disebabkan karena emesis yang berat dan ketidak-mampuannya untuk
mencernakan makanan padat dan cairan. Penggantian vitamin K, parameter
koagulasi kembali ke normal. Vasospasme pembuluh darah cerebral dihubungkan
dengan hiperemesis gravidarum dilaporkan pada dua pasien.(Efmed, 2001, ¶http//www.rumahweb.com,diperoleh
tanggal 22 juni 2010)
Koren (2000)
menggambarkan mual dan muntah sebagai gangguan medis tersering selama kehamilan.
Power et al (2001) mencatat sekitar
51,4% wanita mengalami mual dan 9,2% mengalami muntah. Glick dan Dick (1999)
bertanggapan bahwa sekitar 50% wanita mengalami gejala. Emelianova et. al
(1999) menemukan frekunsi mual sebesar 67% dan 22% insidensi mual dalam
sekelompok wanita yang berjumlah 193 orang. Sementara O’Brien dan Naber (1992) mengatakan bahwa bahwa
70% wanita mengalami mual dan 28%
mengalami muntah. Tinjauan sistematis dari jewell dan Young (2000)
mengidentifikasi angka mual antara 70 dan 85%,dengan sekitar setengah dari
persentase ini mengalami muntah (Denise Tiran, 2008).
Peran
Suami saat istri hamil adalah SIAGA (Siap antar jaga). artinya suami selalu
siap saat istri membutuhkan bantuan fisik maupun psikologis, seperti saat
muntah atau membantu tugas rumah tangga. suami juga bertugas mengantarkan istri
untuk memeriksakan kandungannya dan saat istri ingin melahirkan. dan suami juga
harus menjaga kesehatan istri dan kandungannya. Suami sebaiknya tidak membuat
masalah dalam komunikasi. Jangan membuat emosi istri terganggu. Misalnya, marah
atau bertengkar. Buatlah istri selalu dalam emosi positif. Saat hamil, istri
mungkin akan lebih sensitif, jadi suami juga harus maklum. Jangan memancing
hal-hal yang bisa membuat istri marah atau sedih/tertekan, karena bisa memengaruhi
kandungan.
Hindari segala sesuatu yang bersifat abuse, baik fisik maupun mental, termasuk dalam hal berbicara. Suami harus berempati. Misalnya, membantu pekerjaan rumah, dan sebagainya.(Edno, 2009)
Hindari segala sesuatu yang bersifat abuse, baik fisik maupun mental, termasuk dalam hal berbicara. Suami harus berempati. Misalnya, membantu pekerjaan rumah, dan sebagainya.(Edno, 2009)
B. Perumusan Masalah
Yang menjadi
perumusan masalah dalam penelitian
ini adalah “Belum di
ketahuinya Perilaku Suami Dalam
Menghadapi Istri yang
Mual muntah di Klinik Kurnia
Tegal Sari Mandala I.
selanjutnya sms ke 085277011414
Tidak ada komentar:
Posting Komentar