Selasa, 10 Desember 2013

PENGETAHUAN DAN SIKAP SUAMI TERHADAP PERAWATAN BAYI DI LINGKUNGAN VI KELURAHAN SIMPANG SELAYANG KECAMATAN MEDAN TUNTUNGAN TAHUN 2010



BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
      Angka kematian ibu dan bayi merupakan barometer pelayanan kesehatan disuatu Negara. Bila angka kematian ibu dan bayi masih tinggi berarti pelayanan kesehatan ibu dan bayi belum baik. Sebaliknya bila angka kematian ibu dan bayi rendah berarti pelayanan kesehatan ibu dan bayi sudah baik. (Affandi, 2000)
      Masa bayi disebut juga masa berbahaya, bahaya tersebut dapat berupa bahaya fisik berupa bayi mudah terserang penyakit, kecelakaan yang tidak disengaja yang dapat menimbulkan kesakitan bahkan kematian. (Elizabeth Hurlock, 2007)
      Kematian bayi adalah kematian yang terjadi antara saat setelah bayi lahir sampai bayi berusia belum tepat satu tahun. Banyak faktor yang menyebabkan kematian bayi yaitu faktor yang dibawa anak sejak lahir dan faktor yang berkaitan dengan perawatan dan keadaan lingkungan. (Home, Humaniora, 2009)
      WHO memiliki target pencapaian angka kematian bayi sebesar 15 per 1000 kelahiran hidup. Di antara negara-nagara di ASEAN, Indonesia mempunyai AKB yang tinggi. Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia 2007 (SDKI), Indonesia memiliki angka kematian bayi mencapai 35 per 1000 kelahiran hidup,  angka kematian bayi di Indonesia saat ini masih tergolong tinggi yaitu 7 kali lebih tinggi dari Singapura, 4,6 kali lebih tinggi dari Malaysia, 1,3 kali lebih tinggidari Filipina, dan 1,8 kali lebih tinggi dari Thailand.(Home, Media Indonesia, 2008)
Dari data tersebut, diketahui bahwa Angka kematian bayi di Indonesia masih tinggi, untuk itu sesuai dengan target  Millenium Development Goals (MDGs), Depkes telah mematok target penurunan AKB di Indonesia dari rata-rata 35 meninggal per 1.000 kelahiran hidup menjadi 23 per 1.000 kelahiran hidup pada 2015.
      Angka kematian bayi  terutama disebabkan antara lain oleh faktor kesehatan anak, lingkungan, nutrisi, dan infeksi, kondisi ini  berkaitan erat dengan perawatan bayi. Rata-rata kematian bayi di Indonesia masih cukup besar untuk itu kewajiban kita semua untuk menguranginya (Depkes, Kirana Pri-tasari, 2007)
      Menurut karakteristik perawatan bayi, hanya sekitar 26,7% bayi neonatal yang memperoleh perawatan yang baik, salah satunya bila bayi sakit dibawa berobat. pengobatan terbanyak ke rumah sakit sebesar 8,3%, sedangkan ke puskesmas sebanyak 5,5%. Sekitar 6% bayi neonatal dibawa ke pengobatan tradisional. Sebagian besar bayi neonatal meninggal di rumah yaitu 54,2%. (Home, Media Indonesia, 2008)
      Pada kesempatan yang sama, Esther Indriani dari Maternal and Child Health
Specialist World Vision memaparkan, perawatan sederhana seperti pemberian air susu ibu (ASI) dapat menekan AKB. "Telah terbukti, pemberian ASI eksklusif dapat mencegah 13% kematian bayi dan bahkan 19/0 jika dikombinasikan dengan makanan tambahan bayi setelah usia 6 bulan."
      Disamping hal tersebut juga ibu, suami dan keluarga belum banyak mengetahui tentang perawatan bayinya yang baik dan jika melakukan perawatan yang salah akan mempercepat kematian bayi (Nelson, 2000)
      Salah satu upaya atau cara untuk mengatasi masalah perawatan bayi , maka pusat pelayanan kesehatan dan perawatan maupun Puskesmas harus mengadakan program bagi oaring tua yaitu dengan menjelaskan pemberian asuhan keperawatan yang aman dan berkwalitas, juga mengenai fokus dan adaptasi dengan keluarga dan bayi baru lahir. Selain itu peningkatan pengetahuan orang tua dan keluarga dalam rangka pemberdayaan orang tua dan keluarga ini sudah menjadi salah satu kebijakan pemerintah dengan mendorong pemberdayaan orang tua dan keluarga melalui peningkatan pengetahuan untuk menjamin perilaku sehat dan peningkatan pelayanan kesehatan . ( Barbara 2002 )
      Selain itu untuk menurunkan Angka Kematian Bayi (AKB) adalah dengan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan kesadaran ibu , suami serta keluarga dalam perawatan yang optimal terhadap bayi untuk menurunkan angka kematian bayi.
      Kurangnya pengetahuan dan perhatian dalam perwatan bayi, terutama bila ibu hanya mengurus bayinya sendiri tanpa bantuan siapapun. Seperti yang diketahui umumnya ibu memiliki tugas lain selain merawat bayinya tersebut, seperti mengurus rumah atau ibu merupakan seorang wanita karir, sehingga bayi kurang mendapat perhatian. Maka diperlukan peran suami dalam membantu merawat bayi, agar perawatan bayi dapat dilakukan lebih optimal sehingga dapat menurunkan angka kesakitan dan  kematian bayi.
      Dari uraian di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang pengetahuan dan sikap  suami terhadap perawatan bayi.
B.   Perumusan Masalah
      Berdasarkan  latar belakang di atas dapat dirumuskan masalah penelitian yaitu bagaimana pengetahuan dan sikap suami terhadap perawatan bayi di lingkungan VI Kelurahan Simpang Selayang Kecamatan Medan Tuntungan

C. Tujuan Penelitian
1.    Tujuan Umum
      Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi  pengetahuan dan sikap      suami terhadap perawatan bayi di Lingkungan VI   Kelurahan    Simpang Selayang       Kecamatan Medan Tuntungan.
2.   Tujuan Khusus
      a. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan suami terhadap perawatan bayi.
      b. Untuk mengetahui sikap suami terhadap parawatan bayi.
untuk selanjut nya sms ke 085277011414
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar