BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Angka kematian ibu dan bayi merupakan barometer
pelayanan kesehatan disuatu Negara. Bila angka kematian ibu dan bayi masih
tinggi berarti pelayanan kesehatan ibu dan bayi belum baik. Sebaliknya bila
angka kematian ibu dan bayi rendah berarti pelayanan kesehatan ibu dan bayi sudah
baik. (Affandi, 2000)
Masa
bayi disebut juga masa berbahaya, bahaya tersebut dapat berupa bahaya fisik
berupa bayi mudah terserang penyakit, kecelakaan yang tidak disengaja yang
dapat menimbulkan kesakitan bahkan kematian. (Elizabeth Hurlock, 2007)
Kematian
bayi adalah kematian yang terjadi antara saat setelah bayi lahir sampai bayi berusia
belum tepat satu tahun. Banyak faktor yang menyebabkan kematian bayi yaitu
faktor yang dibawa anak sejak lahir dan faktor yang berkaitan dengan perawatan
dan keadaan lingkungan. (Home, Humaniora, 2009)
WHO memiliki target
pencapaian angka kematian bayi sebesar 15 per 1000 kelahiran hidup. Di antara
negara-nagara di ASEAN, Indonesia mempunyai AKB yang
tinggi. Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia 2007 (SDKI), Indonesia memiliki
angka kematian bayi mencapai 35 per 1000 kelahiran hidup, angka kematian bayi di Indonesia saat ini
masih tergolong tinggi yaitu 7 kali lebih tinggi dari Singapura, 4,6 kali lebih
tinggi dari Malaysia, 1,3 kali lebih tinggidari Filipina, dan 1,8 kali lebih
tinggi dari Thailand.(Home, Media Indonesia, 2008)
Dari data tersebut, diketahui bahwa Angka kematian bayi di Indonesia
masih tinggi, untuk itu sesuai dengan target Millenium Development Goals (MDGs), Depkes
telah mematok target penurunan AKB di Indonesia dari rata-rata 35 meninggal per
1.000 kelahiran hidup menjadi 23 per 1.000 kelahiran hidup pada 2015.
Angka kematian bayi terutama
disebabkan antara lain oleh faktor kesehatan anak, lingkungan, nutrisi, dan
infeksi, kondisi ini berkaitan erat
dengan perawatan bayi. Rata-rata kematian bayi di Indonesia masih cukup besar untuk
itu kewajiban kita semua untuk menguranginya (Depkes, Kirana Pri-tasari, 2007)
Menurut karakteristik
perawatan bayi, hanya sekitar 26,7% bayi neonatal yang memperoleh perawatan
yang baik, salah satunya bila bayi sakit dibawa berobat. pengobatan terbanyak
ke rumah sakit sebesar 8,3%, sedangkan ke puskesmas sebanyak 5,5%. Sekitar 6%
bayi neonatal dibawa ke pengobatan tradisional. Sebagian besar bayi neonatal
meninggal di rumah yaitu 54,2%. (Home, Media Indonesia, 2008)
Pada kesempatan yang
sama, Esther Indriani dari Maternal and Child Health
Specialist World Vision memaparkan, perawatan sederhana seperti pemberian air susu ibu (ASI) dapat menekan AKB. "Telah terbukti, pemberian ASI eksklusif dapat mencegah 13% kematian bayi dan bahkan 19/0 jika dikombinasikan dengan makanan tambahan bayi setelah usia 6 bulan."
Specialist World Vision memaparkan, perawatan sederhana seperti pemberian air susu ibu (ASI) dapat menekan AKB. "Telah terbukti, pemberian ASI eksklusif dapat mencegah 13% kematian bayi dan bahkan 19/0 jika dikombinasikan dengan makanan tambahan bayi setelah usia 6 bulan."
Disamping
hal tersebut juga ibu, suami dan keluarga belum banyak mengetahui tentang
perawatan bayinya yang baik dan jika melakukan perawatan yang salah akan
mempercepat kematian bayi (Nelson, 2000)
Salah
satu upaya atau cara untuk mengatasi masalah perawatan bayi , maka pusat
pelayanan kesehatan dan perawatan maupun Puskesmas harus mengadakan program
bagi oaring tua yaitu dengan menjelaskan pemberian asuhan keperawatan yang aman
dan berkwalitas, juga mengenai fokus dan adaptasi dengan keluarga dan bayi baru
lahir. Selain itu peningkatan pengetahuan orang tua dan keluarga dalam rangka pemberdayaan
orang tua dan keluarga ini sudah menjadi salah satu kebijakan pemerintah dengan
mendorong pemberdayaan orang tua dan keluarga melalui peningkatan pengetahuan
untuk menjamin perilaku sehat dan peningkatan pelayanan kesehatan . ( Barbara
2002 )
Selain
itu untuk menurunkan Angka
Kematian Bayi (AKB) adalah dengan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan
kesadaran ibu , suami serta keluarga dalam perawatan yang optimal terhadap bayi
untuk menurunkan angka kematian bayi.
Kurangnya pengetahuan dan
perhatian dalam perwatan bayi, terutama bila ibu hanya mengurus bayinya sendiri
tanpa bantuan siapapun. Seperti yang diketahui umumnya ibu memiliki tugas lain
selain merawat bayinya tersebut, seperti mengurus rumah atau ibu merupakan
seorang wanita karir, sehingga bayi kurang mendapat perhatian. Maka diperlukan
peran suami dalam membantu merawat bayi, agar perawatan bayi dapat dilakukan
lebih optimal sehingga dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi.
Dari uraian di atas maka penulis tertarik untuk
melakukan penelitian tentang pengetahuan dan sikap suami terhadap perawatan bayi.
B. Perumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan
masalah penelitian yaitu bagaimana pengetahuan dan sikap suami terhadap
perawatan bayi di lingkungan VI Kelurahan Simpang Selayang Kecamatan Medan
Tuntungan
C.
Tujuan Penelitian
1. Tujuan
Umum
Tujuan
umum penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pengetahuan dan sikap suami terhadap perawatan bayi di Lingkungan VI Kelurahan Simpang
Selayang Kecamatan Medan Tuntungan.
2. Tujuan
Khusus
a.
Untuk mengetahui tingkat pengetahuan suami terhadap perawatan bayi.
b. Untuk mengetahui sikap suami terhadap
parawatan bayi.
untuk selanjut nya sms ke 085277011414
Tidak ada komentar:
Posting Komentar